Perbandingan Mesin Perontok Padi yang Semi Mekanis dan Mekanis Penuh

Di jaman sekarang ini kebutuhan pertanian yang bermekanisme semakin tinggi diiringi dengan sulitnya mencari tenaga kerja di bidang pertanian yang tentunya disebabkan oleh kenaikan upah di masyarakat pedesaan tersebut. Indikator yang paling sederhana dalam mengetahui, dimana mekanisasi peralatan pertanian semakin diperlukan bisa dilihat dari peningkatan jumlah alsintan, terutama didaerah yang masih produktif. Dari tahun 1973 sampai dengan saat ini peningkatan itu terus terjadi. Seperti contoh penggunaan mesin pembajak setiap tahunnya terus naik namun mesin pembajak tersebut sangat mudah untuk ditemukan, ini sangat berbeda dengan mesin perontok padi yang jumlahnya masih sedikit dan tidak berbanding dengan luas areal sawah yang masih produktif. Padahal, bisa dibilang mesin perontok padi ini mempunyai peran yang sangat penting dalam mengurangi potensial padi yang berjatuhan pada saat panen.
Petani masih banyak menggunakan perontok padi jenis pedal yang memiliki konstruksi sangat sederhana, dan dibuat oleh petani itu sendiri dan dalam pengoperasian tidak berbeda dengan mesin perontok padi yang modern, serta jenis pedal ini memang lebih mudah dijinjing ketengah sawah, namun dari tingkat hasil panen, jenis pedal ini berpotensi kehilangan gabah sampai 12%.
Mesin ini mempunyai fungsi dan tujuan yang sama dengan alat perontok padi jenis pedal. Namun mesin perontok padi dengan mekanisme penuh ini dapat membantu para petani sampai 500% lebih dibanding dengan alat jenis pedal yang dibuat petani secara manual. Mesin perontok padi ini mempunyai keunggulan seperti, padi langsung terpisah dengan jerami yang bisa langsung kita masukan ke dalam karung-karung untuk di bawa atau ditimbang.
Perkembangan mesin perontok padi inipun semakin canggih, saat ini mesin ini bisa dimultifungsikan sebagai mesin perontok kedelai, jagung, dan hasil panen lainya, jadi mesin ini tidak diperuntukkan sebagai alat untuk merontokan padi saja. Mesin perontok ini bisa Anda dapatkan dengan harga 8jutaan untuk bermesin bensin dan harga untuk yang bermesin disel sekitar 16jutaan, namun kini sudah banyak beredar mesin-mesin buatan Indonesia yang tidak kalah kualitasnya dengan harga yang lebih murah.

Mesin Perontok Padi Indonesia Diekspor ke Afrika

Hifikepunye Pohamba seorang Presiden dari Namibia dan Menteri Pertaniannya, John Mutorwa, sangat berantusias menunggu kedatangan mesin perontok padi dan traktor tangan bermerk Quick yang berasal dari Indonesia. Hal terlihat pada saat beliau menunggu dan menyaksikan secara langsung kehandalan mesin-mesin tersebut.
Traktor tangan hasil karya anak bangsa yang satu ini yang diproduksi CV Karya Hidup Santosa ini sudah terkenal sangat luas dalam periode dua tahun kebelakang ini khususnya di Namibia, Afrika. Di tahun 2010, 9 unit mesin perontok padi dan traktor tangan ini dipesan salah satu Universitas di Namibia untuk keperluan ujicoba dalam proyek Kalimbeza dan dinyatakan berhasil.
Produsen Karya Hidup Santosa ini merupakan produsen alat-alat pertanian yang berada di daerah Yogyakarta, telah mengirimkan 50 unit traktor tangannya dan ditambah 2 unit mesin perontok padi dengan merek yang sama ke Afrika.  Selain Afrika mesin-mesin ini pun sudah pernah diekspor ke Dominika, Timor Leste dan Fiji.
Ekspor yang pertama dilakukan pada bulan November 2011, sesuai pesanan pemerintahan Namibia, pada tanggal 26 Agustus. Ini adalah gebrakan yang cukup besar dalam mengawali ekspansi pasar untuk daerah selatan Afrika, sebelum Indonesia mampu menembus pasar diluar Afrika,” ujar Manajer Pemasaran dari CV Karya Hidup Sentosa. Beliau merasa sangat yakin karena Afrika merupakan pasar dengan peluang yang sangat menjanjikan.
Untuk pengembangan usahanya ini dalam bidang peralatan pertanian ke Angola dan Namibia, perusahaan ini menjalin kerjasama dengan KBRI Windhoek dengan mengikuti pameran yang berskala internasional ini, di Namibia dan di Angola. Dari banyaknya kerja sama yang terjalin antara Indonesia dan kedua negara ini, produsen peralatan pertanian ini mempunyai indikasi bahwa produknya sudah diterima dengan baik di kedua negara itu. Dan membuka kesempatan yang luas untuk menjalin kerja sama dengan negara-negara lain diluar Afrika.
Diluar dari kerjasama ekspor mesin perontok padi dan traktor tangan ini, Indonesia pun mengirimkan seorang Agung Sulaksono sebagai teknisi untuk memberikan pelatihan selama 18 hari yang memang suda ada dalam perjanjian jual beli. Pelatihan yang dipimpin oleh Agung ini memiliki peserta sampai 30 teknisi dari Namibia.